Posted by: gulagulakakidua | September 25, 2011

Menonton Pertunjukan

Saat saya membaca koran Kompas edisi minggu 18 September 2011, ada iklan yang menginformasikan mengenai pementasan yang mengisahkan tentang Kutukan Kudungga. Menurut artikel iklan tersebut, pementasan ini diangkat dari cerita atau dongeng tentang kutukan Raja Kudungga dari Kalimantan Timur. Konon raja tersebut adalah leluhur awal kerajaan di Kalimantan.

Saya pernah bekerja di Kalimantan Timur, tepatnya di salah satu LSM yang mengurusi soal orangutan. Kurang lebih setahun saya bekerja di Kaltim, beberapa minggu sebelum lebaran 2011 saya kembali ke Jakarta karena kontrak kerja saya dengan LSM tersebut telah selesai. Selama di Kaltim saya belum pernah mendengar nama Kudungga, mungkin karena saya sibuk bekerja atau memang malas untuk mencari tahu soal yang seperti ini.

Setelah berpikir beberapa saat, saya memutuskan untuk menonton pertunjukan ini lagipula saya memang belum pernah sama sekali menonton pertunjukan dan memang saya juga sedang mencari hal-hal baru dalam hidup saya, kalau menonton film-film Hollywood di bioskop sudah sering dan itu membuat saya bosan jadi saya pikir menonton pertunjukan adalah ide yang bagus dan pasti tidak mengecewakan karena pertunjukan ini didukung oleh teater gandrik, seniman dan penari Kaltim.

Hari jum’at 23 September 2011 jam 19:30 saya tiba di Taman Ismail Marzuki, agak bingung karena saya sangat jarang ke TIM dan ini mungkin yang ke dua atau ke tiga kalinya saya berkunjung ke TIM. Di TIM saat itu sangat ramai karena ada beberapa pertunjukan selain Kutukan Kudungga dan saya hampir salah masuk gedung, saya hampir memasuki teater kecil padahal pertunjukan yang akan saya tonton berada di Graha Bhakti Budaya (GBB), beruntung saya segera menyadarinya dan menuju GBB. Setelah antri sebentar saya langsung masuk ke ruang pertunjukan dan duduk di bangku L27.

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8 malam, suasana hampir sama seperti saat nonton bioskop bedanya didepan panggung agak kebawah sedikit ada ruang untuk para pemain musik, selain itu diperbolehkan mengambil gambar asalkan tidak menggunakan cahaya atau flash. Untuk hal yang terakhir ini saya agak menyesal karena saya tidak membawa kamera SLR, sebelumnya saya berpikir tidak boleh membawa kamera seperti kalau nonton bioskop. Pertunjukan diawali dengan masuknya para penari Kaltim yang memakai jubah menyerupai burung dan kemudian dilanjutkan dengan adegan-adegan lainnya.

Karena pertunjukan ini didukung oleh Teater Gandrik maka unsur-unsur Jawa cukup terlihat, memang hal ini merupakan bagian dari cerita bahkan dalam salah satu adegan menceritakan demit atau makhluk halus dari Jawa ikut transmigrasi ke Kaltim karena di Jawa sudah tergusur. Humor-humor ala ketoprak juga kental dalam pertunjukan ini, sindiran-sindiran mengenai kondisi-kondisi terkini bangsa Indonesia seperti korupsi, konflik politik, ekonomi maupun sosial ditampilkan dengan jenaka. Tarian-tarian kaltim yang ekspresif sangat menghibur penonton. Selain hal-hal yang bersifat “konservatif” dalam pertunjukan ini juga ditampilkan sesuatu yang “keras” yaitu dengan penampilan band metal asal Kaltim , Band Kapital. Jadi sepertinya sang sutradara mencoba menggabungkan sesuatu yang konservatif dan yang progresif.

Pertunjukan ini pada dasarnya adalah ungkapan mengingatkan tentang adanya legenda Kutukan Kudungga yaitu kutukan yang dibuat oleh Raja Kudungga agar tidak mengambil dan membawa pergi kekayaan alam Kalimantan untuk kepentingan sendiri, melainkan kekayaan alam Kalimantan mesti dimanfaatkan untuk kesejahteraan orang Kalimantan. Bila kutukan ini dilanggar maka hidup orang yang merampok kekayaan alam Kalimantan akan sengsara dan celaka. Dalam pertunjukan tersebut dapat ditafsirkan bahwa tambang, penebangan hutan adalah aktor utama perusak alam di Kalimantan.

Berdasarkan pengalaman bekerja di Kaltim, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perusahaan-perusahaan tambang sangat ekspansif dalam melakukan pekerjaannya. Saya akui tambang memang dapat memutar roda perekonomian secara cepat tetapi tambang juga dapat merusak alam dengan cepat apalagi bila tidak dikontrol dengan baik. Selama saya di Kaltim, saya juga mengetahui bahwa Kaltim adalah salah satu propinsi terkaya di Indonesia, dari mulai hasil hutan, tambang dan juga laut.

Roda perekonomian mungkin telah berputar di Kaltim tetapi saya tidak yakin hal tersebut telah dirasakan oleh semua orang-orang Kaltim. Dari sekian banyak kekayaan alam yang ada hanya tambang saja yang dieksploitasi besar-besaran oleh perusahaan besar maupun kecil, dari yang legal sampai yang ilegal. Kaltim maupun Kalimantan secara keseluruhan juga rentan terhadap konflik sosial.

Bila alam Kaltim rusak, mungkin anak-anak dan generasi mendatang yang akan lebih merasakan akibatnya, mereka sudah tidak bisa lagi melihat keindahan alam Kaltim, mereka tidak punya lagi tempat-tempat bermain dan yang lebih parah mungkin mereka akan kehilangan masa depan. Hal tersebut ditampilkan dengan sangat baik oleh anak-anak dari Kandang Joerang sebagai represantasi generasi yang akan datang dan juga generasi yang akan merasakan akibat dari kerusakan alam Kaltim.

Pertunjukan tersebut memberikan pemahaman baru bagi saya, menonton pertunjukan mampu menghibur secara interaktif, penonton dapat melempar celetukan-celetukan jahil tidak seperti pada saat nonton bioskop. Harga tiket memang tidak semurah harga tiket bioskop, tapi ada kepuasan tersendiri saat menonton pertunjukan, hal ini juga merupakan penghargaan atas budaya bangsa Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.