Imlek beberapa hari yang lalu kembali mengingatkan saya akan tulisan saya yang belum selesai, cerita tentang pertemuan dengan gadis cina (part1). Saya langsung saja memulai cerita….
Setelah kejadian itu Ina dan Norah beberapa kali SMS-an, setiap kali sms dengan Norah, Ina selalu mem-forward sms nya ke HP saya. Ina juga beberapa kali memaksa saya untuk mengirim sms ke Norah, tapi saya selalu menolaknya karena saya belum berani. Ina memang berniat mempertemukan saya dengan Norah, tetapi selalu gagal karena Norah selalu menolak dengan halus, alasannya berbagai macam, karena kelelahan, belajar dan lain-lain. Saya juga tidak terlalu berharap meskipun saya sebenarnya menginginkan pertemuan itu, dan saya juga sangat menghargai usaha Ina yang selalu berusaha mempertemukan saya dengan Norah.
Hari berganti hari tak terasa skripsi saya hampir selesai, saya semakin sibuk memperbaiki skripsi karena deadline untuk penyerahan skripsi semakin dekat, tinggal beberapa minggu lagi, begitu juga dengan Ina, malah skripsi Ina masih banyak yang harus diperbaiki terutama pada bab teori, saya membantunya sebisa mungkin. Lalu bagaimana dengan Norah?? Kami lupa sejenak pada gadis Cina itu, sms-sms Ina beberapa kali tidak dibalas, jadi kami berpikir Norah memang sudah tidak ingin di “ganggu” lagi. Pada akhirnya kami juga fokus pada masing-masing skripsi kami.
Hari persidangan pun tiba, saya sidang lebih dahulu sedangkan Ina beberapa hari setelah saya. Dalam persidangan saya dinyatakan lulus tapi seperti biasa ada beberapa bagian yang perlu direvisi, beberapa hari kemudian Ina sidang dia juga dinyatakan lulus dengan revisi tentunya. Saat revisi kami terkadang mengerjakannya bersama-sama, sementara waktu untuk revisi kurang dari 2 minggu untuk itu kami semua fokus pada revisi sehingga hampir melupakan hal-hal yang tidak penting, lalu bagaimana dengan si cantik Norah? Tidak terlintas sedetik pun dipikiran saya maupun Ina. Bersyukur kami semua dapat menyelesaikan revisi skripsi dan menyerahkan ke bagian akademik.
Sambil melengkapi persyaratan-persyaratan kelulusan lainnya kami sudah agak santai, kami sudah bisa hidup normal dalam hal ini tidur tepat waktu, bangun agak siang, dan sedikit memanjakan diri. Di suatu hari, Selesai menunaikan solat jum’at tiba-tiba HP saya berdering, ternyata dari Ina, dia bilang “bro!!! ada kabar baik”, saya balas “wah kabar apa nih?”. Ina bilang “Norah sms gua!, dia ngajakin creambath hari ini, tapi kan gua lagi kerja, mana bisa”, saya sempat terdiam setengah percaya setengah tidak, bagaimana mungkin setelah tidak ada kabar beberapa minggu kemudian menghubungi Ina untuk creambath bareng, ini pertanda masih ada respon. Kemudian Ina melanjutkan “tapi tenang bro, gua udah atur pertemuan untuk hari sabtu besok, persiapkan diri lu, nanti gua kabarin lagi”, “OK!!” saya balas demikian.
Saya tidak sabar menunggu hari sabtu, tidur pun tidak nyenyak mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi besok. Wajah Norah tak mau hilang dari pikiran saya, lambat laun saya pun tertidur. Sabtu pagi saya bangun, mandi, solat dan mempersiapkan segala suatunya, agak grogi karena hari ini saya akan bertemu wanita cantik, oh my God mudah-mudahan lancar-lancar saja, demikian harapan saya. Selesai semua persiapan saya berangkat menuju kampus, standby disana. Sambil menunggu berita dari Ina saya browsing internet karena saya memang membawa laptop. Agak cemas karena sampai sore hari belum ada kabar dari Ina, “duh jangan-jangan batal nih”, saya berkata dalam hati. Tak lama kemudian sekitar jam 5 sore kabar itu datang, Ina mengirim SMS yang bunyinya “Bro, Norah udah OK, dia minta ketemuan di Kos-an nya jam 6 sore, tapi sori gua nggak bisa nemenin lu, gua ada acara sama keluarga besar gua”, saya sangat kaget, hampir mogok jantung ini, menemui gadis cantik seorang diri, oh my God bagaimana ini??.
Saya balas sms Ina, “ah gila lu Na, tega banget lu ninggalin gua. Ini sih sama aja ngejebak gua. Gua takut nih, batalin aja kali ya?”. Tak lama kemudia Ina menelpon dengan nada sedikit marah dia bilang “lu gimana sih? Udah gua atur jadwal juga. Udah sana temuin. Bikin malu aja lu!!”, kemudian saya balas, “iya iya gua temuin dia”. Akhirnya saya berjalan menuju kos-an Norah, jantung saya berdebar-debar, langkah kaki terasa berat, pikiran kacau, tidak karuan lah pokoknya. Mendekati kos-an Norah, tiba-tiba Depok dan sekitarnya mati lampu, “HAAH MATI LAMPUU!!!!” Ya Tuhan!! Ada apa ini? Jantung saya berdebar semakin kencang, ingin rasanya membatalkan pertemuan ini tapi apa jadinya nanti, dimana harga diri saya sebagai laki-laki. Dengan langkah bulat dan dengan tekad baja saya mantab kan langkah saya menuju kos-an Norah, Norah, I’m coming!!!.
Sesampai di kos-an Norah, dia sudah menunggu di lobby kemudian saya memperkenalkan diri bahwa saya temannya Ina dan saya juga bilang kalau Ina tidak bisa datang karena ada acara keluarga, dia pun memaklumi, setelah itu dia mempersilahkan saya duduk. Dalam keadaan remang-remang dengan diterangi sebatang lilin kami mulai berbincangan, tetapi saya harus berbicara dengan pelan dan jelas karena dia belum terbiasa dengan Bahasa Indonesia, terkadang dia juga menggunakan kamus elektronik bila tidak mengerti kata-kata yang saya ucapkan. Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, tentang kebudayaan Cina, kebudayaan Indonesia. Norah berasal dari Guangdong, itulah mengapa dia saya juluki bidadari Cina Selatan, mungkin saja di sana ada yang lebih cantik dari Norah tapi yang pasti dia telah membuat saya terpesona (idiiiiiih). Dua jam telah berlalu tidak terasa rasanya, saya harus mengakhiri pertemuan (atau blind date?) ini karena besok paginya Norah akan terbang ke Bali untuk liburan selama seminggu dan kemudian kembali ke Cina
Berat rasanya harus mengakhiri pertemuan yang syahdu itu tapi apa boleh buat, tetapi sebelum saya meninggalkan bidadari itu saya meminta ijin untuk mengabadikan kecantikannya, meskipun hanya menggunakan kamera HP 2 MP (saya menyesal seharusnya saya membawa SLR D80 milik saya). Dia pun mengijinkan, tiba-tiba disaat saya ingin mengambil kecantikannya (maksudnya fotonya) lampu menyala, baguslah karena kecantikannya terlihat lebih jelas. Dia tersenyum dan…klik, kecantikannya tersimpan di memory HP, Kami juga sempat bertukar nomor HP dan email. Terakhir saya mengucapkan terima kasih atas kesediaanya menemui saya, dia juga mengucapkan terima kasih, saya pun pamit meninggalkan Norah. Norah si beautiful south Chinese semi goddess, slender and tender, never been kissed (lebay…..hehehe).
Sejak pertemuan itu sampe sekarang saya tidak pernah berhubungan lagi, saya pernah mengirimnya email tapi tidak dibales dia memiliki email google, saya juga telah nge-add alamatnya di Gtalk saya tetapi belum di approve sampai saat ini, apakah jangan-jangan google di Cina di ban? Saya juga beberapa kali mencari-cari “sidik jari” Norah di fakultas dia pernah belajar dan internet. Hasil penelusuran internet mengarahkan saya kepada website-website di Cina, untunglah google punya fasilitas alih bahasa. Dari situ kemudian saya mengetahui bahwa Norah bukanlah nama asli, dia berprofesi sebagai dosen bahasa, dia juga pernah kuliah di Australia dan yang terakhir dia belajar bahasa di Indonesia. Saya juga mendapatkan nomor telepon dia di Cina dan emailnya yang lain, tapi saya belum berani menghubunginya.
Ini namanya bukan pengalaman sama, but I thought if u still think about her…
By: Ethenia on March 20, 2010
at 9:59 pm
haha….tebakan anda benar, rupanya intuisi anda sebagai wanita lumayan tajam…asah terus, terima kasih
By: gulagulakakidua on March 21, 2010
at 7:53 pm