Posted by: gulagulakakidua | October 16, 2009

BIDADARI CINA SELATAN (Part 1)

Judul diatas mungkin terlalu berlebihan karena mana ada bidadari di jaman sekarang, tapi ini sebenarnya kisah nyata, memang bukan tentang bidadari tapi tentang seorang gadis yang menurut ukuran saya sangat cantik, menarik, seksi, menggemaskan, cerdas, ah sudahlah pokoknya gadis itu sangat menarik. OK saya akan menceritakan pengalaman saya.

Saat itu saya adalah mahasiswa tingkat akhir_.pada saat cerita ini ditulis saya sudah lulus tentunya._sebuah universitas negeri di depok. Saya sedang disibukan oleh skripsi yang sudah tertunda selama 3 semester karena saya juga sambil bekerja, singkatnya saya sudah hampir menyelesaikan skripsi dan mengikuti sidang. Saya banyak menghabiskan waktu dikampus untuk sekedar merevisi skripsi atau bimbingan, perpustakaan fakultas adalah tempat favorit saya.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang juga sedang menyelesaikan skripsinya, kami menghabiskan waktu di perpustakaan hingga perpustakaan tersebut tutup sekitar jam 8 malam. Teman saya itu seorang wanita sebut saja namanya Ina, selesai dari perpustakaan kami menuju kantin untuk makam malam, saat kami sedang memilih makanan saya melihat 3 orang gadis datang tentunya tujuan mereka juga sama yaitu ingin makan malam tetapi dari 3 gadis tersebut ada 1 gadis yang menarik perhatian saya, kenapa?? Karena gadis itu berbeda sedangkan 2 gadis yang lainnya saya sering melihatnya di kampus, oh ya saya ini sudah 7 tahun kuliah di universitas tersebut jadi sedikit banyak saya tahu perkembangannya termasuk gadis-gadisnya juga….hehehe.

Saya yakin gadis yang 1 itu bukan gadis lokal karena dari fisik dan bahasa tubuh nya berbeda. Gadis-gadis itu pun duduk dan mulai makan, saya dan Ina juga duduk di meja yang dekat dengan 3 orang gadis itu, hal ini memang sudah saya atur sedemikian rupa agar saya dapat memperhatikan gadis itu dengan seksama. Kami berdua makan dan berbincang-bincang sementara ke 3 gadis tersebut juga melakukan hal yang sama, tetapi meskipun saya dan Ina sedang berbicara mata saya tetap memperhatikan gadis asing itu. Gadis itu pun seperti tahu kalo saya perhatikan, karena beberapa kali mata kami sempat saling melihat. Ina pun tahu kalo saya sedang memperhatikan sesuatu sampai dia menegur saya “lu ngeliatin siapa sih?” saya bilang “ngeliatin cewek yang di ada didepan gua”, “dasar mata keranjang lo” kata Ina, “gua bukannya mata keranjang, tapi cewek itu kayaknya bukan cewek lokal” saya balas demikian. “iya juga ya” kata Ina sambil memperhatikan gadis tersebut. Dari cara berbicara gadis tersebut memang dia bukan gadis Indonesia, berbicaranya sedikit kaku, “sepertinya dia dari Cina” saya bilang ke Ina. “ah nggak ah, gua rasa dia dari korea” seru Ina. Tapi pada akhirnya kami berdua sepakat bahwa gadis asing itu berasal dari cina, kami mengetahuinya karena gadis tersebut menunjukan selembar uang kertas yang bergambar Mao Zedong kepada teman-temannya.

Tebakan saya ternyata tepat meskipun saya sempat ragu, karena kalo dilihat secara fisik memang tidak seperti gadis cina pada umumnya, karena secara fisik dia cukup tinggi dan padat berisi, kulitnya memang kuning tetapi wajahnya tidak terlalu cina. Di tengah-tengah perbicangan tiba-tiba Ina berkata “kita kenalan yuk!!!”. “apa?? Nggak ah, gila aja, gua kan cuma mengagumi, lagian gua juga nggak berani” jawab saya. “ah gimana sih lu jadi cowok cemen amat” balas Ina dengan nada sedikit mengejek. Saya ini memang suka mengagumi wanita, tetapi kadang saya suka grogi kalo menghadapi wanita, makanya saya nggak berani ketika Ina mengajak kenalan gadis cina itu.

Makan malam kami pun selesai begitu juga dengan ketiga gadis itu, mereka pun pergi. Kecewa sedikit rasanya tapi tidak apalah karena setidaknya saya bisa memandangi kecantikan gadis cina itu. Kami pun segera bersiap untuk pergi, tapi…..di lorong kampus kami kembali bertemu dengan ke 3 gadis itu, duh rasanya gimana gitu, mata saya dan mata gadis cina itu sempat saling pandang, saya pun mempercepat langkah untuk menjauhi gadis-gadis itu. Ke 3 gadis itu berbicara sebentar dan berpisah kearah yang berlainan. Tiba-tiba Ina membuat ulah, dia berlari mengejar salah satu teman gadis cina, temannya itu memang satu fakultas dengan kami jadi tidak heran bila Ina juga kenal muka dengan gadis yang dikejarnya itu. Ulah Ina itu membuat jantung saya berdebar-debar dan sedikit malu, duuuh Ina..Ina.

Ina kembali dengan wajah tersenyum dia mendapat info bahwa gadis yang saya kagumi adalah mahasiswi dari cina dia sedang belajar bahasa Indonesia untuk beberapa bulan….dan satu lagi…gadis itu bernama Norah. “oh my God Ina!! Lu bikin jantung gua deg-degan gila lu ya”. “hahaha, gitu aja deg-degan…tapi senengkan lu udah tau namanya” balas Ina. “iya sih tapi..tapi kok namanya kebarat-baratan ya??….ah udah lah gua mau pulang aja, ok sampe besok” kata saya karena tidak tau lagi harus mengatakan apa. “OK deh, gua juga mau pulang nih, keburu nggak ada angkot, Besok ketemu di perpus lagi ya!!”. “iya”.

Hari berganti hari, saya masih sibuk menyelesaikan skripsi begitu juga dengan Ina, kadang kami mengerjakan bersama kadang sendiri. Norah juga terkadang terlintas dipikiran saya, ya itung-itung hiburan untuk menghilangkan kepenatan akibat skripsi. Tapi saya segan untuk membahas nya dengan Ina karena beberapa hari yang lalu saat kami membahas Norah, Ina sangat ingin mengajaknya berkenalan, saya pikir ini ide yang gila. Saya sebenarnya juga ingin berkenalan tapi entah kenapa sepertinya saya takut, grogi, malu, intinya tidak berani. Pada pertemuan berikutnya kami bertemu di perpustakaan pusat untuk mencari referensi-referensi tambahan, kami cukup lama disana kemudian sekitar jam 3 sore kami memutuskan untuk makan di kantin fakultas. jarak dari perpustakaan pusat ke kantin fakultas kami tidak terlalu jauh sehingga cukup jalan kaki, saat mendekati kantin fakultas tiba-tiba mata saya tertuju pada seseorang, orang itu tidak lain adalah Norah….oh my God kami akan papasan, saya bilang ke Ina “Na, ada Norah depan”, “oh iya, ngeliat aja lu…kita kenalan aja yuk!!” kata Ina, “nggaaaak!!!” langsung saya balas. Akhirnya kami papasan, saya melihat dia, dia pun melihat saya, OMG!! Jantung saya berdebar2, dia terlihat cantik siang itu….nothing else to say.

Ina melihat Norah memasuki restoran Korea, “bro, dia masuk restoran Korea, ayok kita susul”, “ogah ah” saya balas, tapi tetap saja Ina memaksa, akhirnya saya pun mengikuti ajakan Ina “Ok, tapi awas lu kalo macem-macem”, “iya iya, kita minum aja disana” kata Ina. Kami berdua pun masuk ke restoran Korea, karena restorannya tidak begitu besar maka kami dapat langsung melihat Norah, dia sedang duduk bersama teman-temannya, mereka semua orang Korea. Kami pun duduk dimeja sebelah Norah dan teman-temannya duduk, Norah sepertinya tahu kalau saya diduduk disebelahnya. Mata kami pun kadang saling bertemu, duh bikin grogi tapi saya berusaha mengendalikan perasaan. Saya menyalakan laptop supaya keliatan sibuk, sementara Ina memesan minuman.

Saat saya sedang membaca-baca skripsi dilaptop tiba-tiba saya dikagetkan oleh sebatang sumpit yang jatuh di dekat kaki saya, ternyata sumpit itu milik Norah, saya melihat sumpit itu kemudian saya melihat Norah, dia pun melihat saya. Secepat kilat langsung saya ambil sumpit itu dan saya berikan kepada Norah. “terimakasih” kata Norah, saya hanya membalas dengan senyum, saya tidak bisa berkata-kata, dalam hati saya berkata “akhirnya dia mengucapkan sesuatu”. Oh Tuhan, jantung saya berdebar-debar. Tapi saya jadi berfikir, bertanya-tanya dalam hati apakah kejadian itu sengaja atau tidak sengaja? Ah sudahlah hanya Tuhan yang tahu. Ina tidak tahu kejadian ini, tapi saya menceritakannya kemudian setelah keluar dari restoran, dia hanya tersenyum-senyum mendengarnya, dia bilang “gua rasa itu disengaja”.

Beberapa saat kemudian Norah meninggalkan teman-temannya dan berjalan keluar restoran, lagi-lagi Ina membuat ulah, dia berlari mengejar Norah, aduuuuh hati saya jadi tidak karuan. Tidak lama kemudian Ina kembali dengan muka tersenyum, “nih gua dapet nomer HP dan emailnya”. Norah menuliskan nomor HP dan email nya di selembar post-it. Saya terdiam sebentar memandangi post-it itu, “wuah keren lu Na, bisa dapet nomor HP dia”. Ina pun membalasnya dengan penuh kebanggaan, “hehehe….gua gitu loh, gua udah kenalan sama dia, Cuma bahasa Indonesia nya masih payah, gua harus ngomong pelan-pelan supaya dia ngerti. Nah sekarang lu sms dia buruan!!!”. “nggak ah, gua belom berani, mending lu aja yang sms-an sama dia dulu, nanti baru lu kenalin ke gua”. Saya bilang demikian. Ina pun mengiyakan. Hari itu setidaknya ada dua kemajuan, pertama skripsi dan kedua Norah.


Responses

  1. [...] mengingatkan saya akan tulisan saya yang belum selesai, cerita tentang pertemuan dengan gadis cina (part1). Saya langsung saja memulai [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.