Posted by: gulagulakakidua | October 4, 2011

Sensus Pajak Nasional di tengah isu korupsi

Sensus Pajak Nasional (SPN) 2011 telah dimulai dengan harapan menjaring wajib pajak baru dan yang pasti tambahan pemasukan untuk negara. Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan setiap negara dan dari pajak pula negara dapat membangun serta memakmurkan rakyatnya. Mulai dari negara maju sampai negara miskin, pajak pasti selalu ada dan mungkin dengan nama atau bentuk yang berbeda-beda. Konsep dan teorinya sangat meyakinkan di atas kertas tapi pelaksanaannya belum tentu.

Di Indonesia saat ini sedang ramai oleh kasus-kasus korupsi yang bahkan dilakukan oleh orang yang mengurusi pajak dengan kata lain oleh pegawai pajak sendiri. Selain kasus tersebut ada juga kasus korupsi yang melibatkan beberapa pejabat tinggi negara dan elite partai politik, belum lagi kasus-kasus lain yang tidak atau belum terekspos. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah tepat waktu yang dipilih pemerintah untuk mengadakan SPN 2011, mengingat banyaknya kasus-kasus korupsi diatas yang sampai saat ini belum terselesaikan secara jelas.

Pemerintah memang gencar menayangkan iklan-iklan layanan masyarakat terutama yang berhubungan dengan pajak, tetapi apakah hal tersebut juga akan menjadi jaminan bahwa pajak akan dikelola dengan baik. Korupsi di Indonesia sudah sangat-sangat parah. Dari pegawai rendahan sampai pejabat tinggi, dari politikus kelas teri sampai politikus kelas kakap hampir semua melakukan korupsi. Penyelesaian kasus-kasus korupsi juga tidak memuaskan apalagi bila sudah melibatkan petinggi partai besar, pejabat tinggi negara atau juga korporasi multinasional.

Sampai batas-batas tertentu SPN atau apalah namanya mungkin benar dan wajar, pajak diperlukan untuk pembangunan atau perkembangan suatu negara tapi bila pengelolaannya salah maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Sekarang saja bisa dirasakan bagaimana pelayanan negara atau birokrasi terhadap rakyat tentunya rakyat kebanyakan atau rakyat miskin, biaya hidup semakin mahal, pendidikan sulit didapat oleh rakyat miskin, petani sulit mendapat dukungan seperti pupuk, irigasi bantuan finansial dan lain-lain. Korupsi semakin menjadi, bahkan ada indikasi melibat elit-elit di pemerintahan ataupun para wakil rakyat. Para birokrat atau aparat yang digaji oleh negara dari pajak rakyat masih sering melakukan pemerasan, pungli (pungutan liar).

Mungkin ada baiknya pemerintah memberikan bukti terlebih dahulu sebelum melakukan SPN, bukti-bukti yang dimaksud adalah bukti bahwa pemerintah sudah sukses melakukan reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, pelayanan dan perlindungan untuk rakyat. Kalau itu semua bukti bukti tersebut sudah terpenuhi, semua orang pasti tidak akan ragu untuk bayar pajak.

Posted by: gulagulakakidua | September 25, 2011

Menonton Pertunjukan

Saat saya membaca koran Kompas edisi minggu 18 September 2011, ada iklan yang menginformasikan mengenai pementasan yang mengisahkan tentang Kutukan Kudungga. Menurut artikel iklan tersebut, pementasan ini diangkat dari cerita atau dongeng tentang kutukan Raja Kudungga dari Kalimantan Timur. Konon raja tersebut adalah leluhur awal kerajaan di Kalimantan.

Saya pernah bekerja di Kalimantan Timur, tepatnya di salah satu LSM yang mengurusi soal orangutan. Kurang lebih setahun saya bekerja di Kaltim, beberapa minggu sebelum lebaran 2011 saya kembali ke Jakarta karena kontrak kerja saya dengan LSM tersebut telah selesai. Selama di Kaltim saya belum pernah mendengar nama Kudungga, mungkin karena saya sibuk bekerja atau memang malas untuk mencari tahu soal yang seperti ini.

Setelah berpikir beberapa saat, saya memutuskan untuk menonton pertunjukan ini lagipula saya memang belum pernah sama sekali menonton pertunjukan dan memang saya juga sedang mencari hal-hal baru dalam hidup saya, kalau menonton film-film Hollywood di bioskop sudah sering dan itu membuat saya bosan jadi saya pikir menonton pertunjukan adalah ide yang bagus dan pasti tidak mengecewakan karena pertunjukan ini didukung oleh teater gandrik, seniman dan penari Kaltim.

Hari jum’at 23 September 2011 jam 19:30 saya tiba di Taman Ismail Marzuki, agak bingung karena saya sangat jarang ke TIM dan ini mungkin yang ke dua atau ke tiga kalinya saya berkunjung ke TIM. Di TIM saat itu sangat ramai karena ada beberapa pertunjukan selain Kutukan Kudungga dan saya hampir salah masuk gedung, saya hampir memasuki teater kecil padahal pertunjukan yang akan saya tonton berada di Graha Bhakti Budaya (GBB), beruntung saya segera menyadarinya dan menuju GBB. Setelah antri sebentar saya langsung masuk ke ruang pertunjukan dan duduk di bangku L27.

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8 malam, suasana hampir sama seperti saat nonton bioskop bedanya didepan panggung agak kebawah sedikit ada ruang untuk para pemain musik, selain itu diperbolehkan mengambil gambar asalkan tidak menggunakan cahaya atau flash. Untuk hal yang terakhir ini saya agak menyesal karena saya tidak membawa kamera SLR, sebelumnya saya berpikir tidak boleh membawa kamera seperti kalau nonton bioskop. Pertunjukan diawali dengan masuknya para penari Kaltim yang memakai jubah menyerupai burung dan kemudian dilanjutkan dengan adegan-adegan lainnya.

Karena pertunjukan ini didukung oleh Teater Gandrik maka unsur-unsur Jawa cukup terlihat, memang hal ini merupakan bagian dari cerita bahkan dalam salah satu adegan menceritakan demit atau makhluk halus dari Jawa ikut transmigrasi ke Kaltim karena di Jawa sudah tergusur. Humor-humor ala ketoprak juga kental dalam pertunjukan ini, sindiran-sindiran mengenai kondisi-kondisi terkini bangsa Indonesia seperti korupsi, konflik politik, ekonomi maupun sosial ditampilkan dengan jenaka. Tarian-tarian kaltim yang ekspresif sangat menghibur penonton. Selain hal-hal yang bersifat “konservatif” dalam pertunjukan ini juga ditampilkan sesuatu yang “keras” yaitu dengan penampilan band metal asal Kaltim , Band Kapital. Jadi sepertinya sang sutradara mencoba menggabungkan sesuatu yang konservatif dan yang progresif.

Pertunjukan ini pada dasarnya adalah ungkapan mengingatkan tentang adanya legenda Kutukan Kudungga yaitu kutukan yang dibuat oleh Raja Kudungga agar tidak mengambil dan membawa pergi kekayaan alam Kalimantan untuk kepentingan sendiri, melainkan kekayaan alam Kalimantan mesti dimanfaatkan untuk kesejahteraan orang Kalimantan. Bila kutukan ini dilanggar maka hidup orang yang merampok kekayaan alam Kalimantan akan sengsara dan celaka. Dalam pertunjukan tersebut dapat ditafsirkan bahwa tambang, penebangan hutan adalah aktor utama perusak alam di Kalimantan.

Berdasarkan pengalaman bekerja di Kaltim, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perusahaan-perusahaan tambang sangat ekspansif dalam melakukan pekerjaannya. Saya akui tambang memang dapat memutar roda perekonomian secara cepat tetapi tambang juga dapat merusak alam dengan cepat apalagi bila tidak dikontrol dengan baik. Selama saya di Kaltim, saya juga mengetahui bahwa Kaltim adalah salah satu propinsi terkaya di Indonesia, dari mulai hasil hutan, tambang dan juga laut.

Roda perekonomian mungkin telah berputar di Kaltim tetapi saya tidak yakin hal tersebut telah dirasakan oleh semua orang-orang Kaltim. Dari sekian banyak kekayaan alam yang ada hanya tambang saja yang dieksploitasi besar-besaran oleh perusahaan besar maupun kecil, dari yang legal sampai yang ilegal. Kaltim maupun Kalimantan secara keseluruhan juga rentan terhadap konflik sosial.

Bila alam Kaltim rusak, mungkin anak-anak dan generasi mendatang yang akan lebih merasakan akibatnya, mereka sudah tidak bisa lagi melihat keindahan alam Kaltim, mereka tidak punya lagi tempat-tempat bermain dan yang lebih parah mungkin mereka akan kehilangan masa depan. Hal tersebut ditampilkan dengan sangat baik oleh anak-anak dari Kandang Joerang sebagai represantasi generasi yang akan datang dan juga generasi yang akan merasakan akibat dari kerusakan alam Kaltim.

Pertunjukan tersebut memberikan pemahaman baru bagi saya, menonton pertunjukan mampu menghibur secara interaktif, penonton dapat melempar celetukan-celetukan jahil tidak seperti pada saat nonton bioskop. Harga tiket memang tidak semurah harga tiket bioskop, tapi ada kepuasan tersendiri saat menonton pertunjukan, hal ini juga merupakan penghargaan atas budaya bangsa Indonesia.

Posted by: gulagulakakidua | September 22, 2011

Modifikasi Antena Vodafone Zuhause Talk & Web Box

Sesuai dengan judul di atas modifikasi antena pada Vodafone Zuhause adalah bertujuan untuk menambah daya tangkap sinyal 3G (UMTS). Sekedar informasi perangkat Vodafone Zuhause Talk & Web Box yang saya miliki adalah perangkat multifungsi karena di dalamnya terdapat modem 3G dengan merk Novatel Merlin U630, selain itu di dalam perangkat ini juga terdapat WiFi Router dan GSM Fixed Wireless Terminal (Fax/Phone) dengan demikian perangkat ini berfungsi sebagai modem 3G, WiFi Router dan juga GSM FWT. Modifikasi antena pada perangkat ini sebenarnya hanya mengganti antena standar perangkat tersebut dengan antena luar ruangan (outdoor).

Antena bawaan perangkat ini diganti karena dirasa kurang mumpuni dalam menangkap sinyal 3G (UMTS), sinyal 3G yang ditangkap antena ini maksimal hanya dua baris (maksimum 5 baris) bahkan tidak jarang sinyal yang ditangkap hanya sinyal GPRS, hal ini tentu mempengaruhi kecepatan koneksi internet bahkan koneksi sering terputus (disconnect). Saya menggunakan Indosat M2, BTS indosat juga tidak jauh dari rumah. Kemudian saya berpikir untuk mengganti antena bawaan (standar) dengan antena 3G untuk luar ruangan (outdoor).

Setelah beberapa waktu googling di internet saya menemukan banyak pilihan untuk antena 3G dari yang murah sampai yang mahal, buatan lokal maupun buatan luar negeri. Untuk antena 3G buatan lokal harga berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 400.000 harga tersebut cukup terjangkau dan pembuatnya juga menyediakan bantuan teknis. Bila dilihat secara sepintas antena tersebut mirip dengan antena tv, di internet juga bisa ditemukan cara untuk membuat antena 3G untuk luar ruangan. Saya bahkan sempat berpikir untuk mencoba membuat sendiri, tetapi saya kemudian memiliki ide lain yaitu menggunakan antena tv yang ada di rumah.

Percobaan pertama saya lakukan, saya memasang kabel tambahan (paralel) dari kabel antena tv yang ada di rumah. Masalah baru muncul, konektor antena modem adalah Hirose MS-151 hal ini tentunya tidak bisa langsung dikoneksikan dengan kabel antena tv yang saya buat tadi karena kabel antena tv adalah jenis kabel coaxial, tembaga pada kabel ini ukurannya lebih besar dari konektor modem. Konektor antena modem (Hirose MS-151) memiliki lubang konektor sebesar jarum, untuk itu saya mencoba memasukan jarum jahit pada lubang konektor tersebut dan ternyata cocok. Dengan demikian saya menyambung ujung kabel antena dalam hal ini tembaga kabel tersebut disambung dengan jarum jahit, kemudian jarum tersebut dimasukan kedalam konektor antena modem.

Setelah itu modem dinyalakan dan hasil yang didapat ternyata mengecewakan, sinyal 3G yang didapat sebanyak 1 baris bahkan sinyal turun menjadi GPRS. Kemudian saya melakukan percobaan kedua, saya tetap menggunakan antena dan kabel yang sama hanya saja kabel tidak diparalel dengan tv, dari antena langsung ke modem. Kemudian saya nyalakan kembali modemnya dan ternyata hasil yang didapat sangat memuaskan, sinyal 3G yang didapat sebanyak 3 baris.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli antena tv seharga Rp 80.000 dan juga kabelnya. Saya juga tetap menggunakan jarum jahit untuk menyambung ujung kabel dengan modem. Antena saya pasang di sebatang bambu dengan menghadap ke BTS. Dengan antena baru ini koneksi lebih stabil, jarang mengalami putus alias disconnect. Bila kondisi lingkungan (suhu, cuaca, angin) sedang baik sinyal 3G yang didapat bisa mencapai 4 baris.

Posted by: gulagulakakidua | April 25, 2011

Blogging dari Samsung Wave 533

Setelah berbulan-bulan nggak update blog akhirnya ada juga kesempatan untuk update blog, sebenernya agak memaksakan diri sih untuk update atau paling nggak nulis sesuatu. Mungkin sudah hampir setahun ini vacum nggak nulis blog karena sesuatu hal (akan dibahas dilain kesempatan). Nah kebetulan ada rejeki untuk beli gadget baru samsung wave 533 sekalian ngetes deh, secara keseluruhan cukup puas dengan gadget ini. samsung tipe ini emang belum 3G dan cuma EDGE, sedangkan untuk koneksi lainnya ada wifi dan bluetooth. test koneksi dengan indosat broadband juga lumayan cepat (kebetulan jaringan indosat lagi OK), dari sisi aplikasi lumayan komplit ada IM (YM, GTALK, Windows live) dan tentunya email yang bisa “narik” email yahoo ataupun gmail. cuma ada sedikit yang mengecewakan, waktu mau dikoneksikan ke laptop via usb nih gadget agak susah software samsung kies nggak mau detect, tapi masih bisa transfer file kok tapi dengan pilihan mass storage. features yang lain adalah GPS yang bisa berfungsi meskipun tanpa sinyal GSM. Masih ada beberapa point tentang kelebihan dan kekurangan samsung wave 533, tapi secara keseluruhan saya cukup puas

Posted by: gulagulakakidua | March 19, 2010

Bisakah mereka menjadi Putra Putri Terbaik Bangsa?

Dalam pidato Presiden yang menanggapi hasil sidang Paripurna DPR mengenai Century, Presiden menyebut beberapa nama sebagai putra-putri bangsa yang rekam-jejaknya tidak sedikit pun meninggalkan catatan buruk terkait dengan kompetensi, kredibilitas, dan integritas pribadinya. (selengkapnya). Dunia internasional juga mengakui kredibilitas nama-nama tersebut, lulusan universitas terbaik, berpengalaman di dunia akademik maupun professional.

Terlepas dari kontroversi mengenai kebijakan yang telah mereka buat, mereka tetap orang-orang pintar yang dibutuhkan oleh Negara ini. Susah-susah gampang membentuk orang-orang seperti mereka, dibutuhkan banyak biaya dan waktu menghasilkan putra-putri terbaik bangsa. Apalagi di jaman sekarang disaat segala sesuatu serba mahal terutama pendidikan, mungkin bagi sebagian orang yang memiliki banyak duit hal ini tidak akan menjadi masalah, orang-orang kaya dapat dengan mudah mengirim anak-anaknya bersekolah dimana saja dalam dan luar negeri, mengikuti berbagai macam kursus dan pendidikan-pendidikan tambahan lainnya.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang seperti pada foto di bawah ini, yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan lingkungan yang kotor dan harus bekerja apa saja untuk menyambung hidup, orang tua anak-anak juga tidak jelas. Mereka hidup dan tinggal secara berkelompok dengan anak-anak yang senasib dalam sebuah rumah. Saya juga tidak tahu apakah tempat tinggal anak-anak itu layak disebut rumah.

Menurut data Departemen Sosial, Indonesia memiliki 5,4 juta anak telantar (Selengkapnya). Menurut UUD 45 pasal 34, anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Negara mampu memelihara anak-anak terlantar tersebut? Foto-foto ini adalah foto anak terlantar yang berada di salah satu sudut kota Jakarta, Ibukota Negara Indonesia, lalu bagaimana anak-anak terlantar yang berada jauh dari Jakarta? Siapa yang harus dipersalahkan bila anak-anak itu tidak ada yang mengurusnya? Apakah orang tua yang melahirkan anak itu?, pemerintah yang tidak sanggup mengurus?, masyarakat yang tidak peduli?, anak itu sendiri atau Tuhan? Bisakah mereka menjadi putra-putri terbaik bangsa?

Saya pun teringat salah satu ucapan Bung Hatta yang mengatakan “Camkanlah, Negara Republik Indonesia belum lagi berdasarkan Pancasila, apabila Pemerintah dan masyarakat belum sanggup mentaati UUD 1945, terutama belum dapat melaksanakan pasal 27 ayat 2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34”.

Posted by: gulagulakakidua | March 5, 2010

Panas Dingin Kisruh Century

Sidang Paripurna DPR beberapa hari yang lalu menghasilkan putusan yang menyatakan bahwa keputusan bail out atas Bank Century tidak tepat (selengkapnya). Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah putusan ini akan membuat situasi politik akan semakin panas? Panas dingin situasi politik di tanah air akan ditentukan dengan sikap SBY, pidato kenegaraan SBY memang tidak menyinggung perombakan atau reshuffle kabinet (selengkapnya) tetapi berbeda dengan sikap partai yang dibinanya, partai demokrat justru sangat kecewa dengan sikap partai-partai koalisi (selengkapnya).

Sebagaimana kita ketahui kasus bank century telah menyeret pejabat-pejabat tinggi Negara seperti wakil presiden dan menteri keuangan, kasus ini juga bergulir tak jelas kemana, partai koalisi yang seharusnya mendukung SBY malah “menyerang” SBY dan seolah-olah bergabung bersama partai oposisi, yang dulu kawan sekarang menjadi lawan. Kasus ini juga sudah bercampur antara konflik kepentingan, konflik pribadi, dendam pribadi dan dendam professional. Selain itu kasus ini juga membentuk kubu-kubu yang saling berseberangan ada yang pro bail out, ada yang kontra bail out dan ada juga yang netral, kubu-kubu ini terdiri dari berbagai golongan dari mulai politikus, akademisi, aktivis, pengusaha, teknokrat serta masyarakat.

SBY sepertinya “termehek-termehek” menghadapi kasus century hal ini ditandai dengan ikut “bermainnya” staff khusus presiden (selengkapnya). Pernyataan-pernyataan SBY dalam menanggapi kasus century dinilai banyak pihak sebagai sesuatu hal yang terlambat misalnya pernyataan tentang konflik kepentingan antara bisnis, kekuasan dan politik, hal ini dimaksudkan untuk para dan mantan pejabat yang berpolitik dan berbinis. Hal ini memang menurut saya juga sangat telat karena dulu waktu terjadi kasus Lumpur lapindo SBY bisa dibilang tidak melakukan sesuatu hal yang signifikan dan dinilai tidak membela korban Lumpur lapindo hanya karena lapindo adalah milik pejabat tinggi Negara yang saat itu sedang menjabat sebagai menteri, sampai saat ini pun Lumpur lapindo tidak jelas penyelesaiannya. Kasus-kasus pajak juga baru diangkat saat kasus century sudah setengah jalan, hal ini juga menandakan SBY banyak memiliki hutang-hutang politik sehingga tidak berani menindak “sahabat-sahabat” politiknya.

Pernyataan selanjutnya yaitu mengenai pidato yang menyatakan bertanggungjawab atas kebijakan bail out, pihak-pihak yang kontra bail out tentunya menyesalkan kenapa SBY baru berbicara sebelum sidang paripurna, bentuk pertanggungjawaban SBY juga tidak jelas dalam bentuk apa. Pidato kenegaraan atas tanggapan sidang paripurna juga dinilai tidak berbobot karena hanya merupakan pidato pembelaan terhadap wapres dan menkeu, pidato tersebut belum dapat secara konkrit menyelesaikan kisruh century. Setelah sidang paripurna dorongan untuk mundur terhadap wapres dan menkeu semakin gencar, partai demokrat tidak terima “disakiti”, sementara oposisi bertambah amunisi untuk menyerang.

SBY sepertinya juga tidak akan mencopot menkeu, mengingat SMI di mata SBY adalah orang yang kompeten, saya pun mengakui bahwa SMI dan juga Boediono adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya, track record nya jelas, lulusan dari universitas-universitas terkemuka sehingga gelar akademik juga dapat dipertanggungjawabkan selain itu beliau-beliau tidak berpolitik sehingga kemungkinan besar dapat bersikap netral, mungkin hal ini juga yang membuat SBY memilih orang-orang itu untuk mengisi posisi yang sangat strategis atau jangan-jangan SBY memang tidak mau memberikan posisi menkeu kepada orang-orang dari partai lain karena takut disalah gunakan dan dapat memperkuat partai yang bersangkutan, sedangkan kalau diisi oleh orang dari partai demokrat dapat menimbulkan spekulasi bahwa partai demokrat terlalu mencari untung dengan mengeruk uang Negara sebanyak-banyaknya, kalau seperti ini SMI dan Boediono tampaknya menjadi orang tepat tetapi berada pada waktu yang salah.

Untuk menyelesaikan masalah ini SBY harus mendinginkan partainya sendiri dan juga partai oposisi + partai yang berteman sementara dengan oposisi dan tentunya SBY dan juga partai-partai oposisi harus menggunakan cara-cara yang bermoral dan beretika karena menurut ilmuwan muslim Ibnu Rusyid “POLITICS WITHOUT MORALITY IS DOOMED TO FAILURE”. Kita semua tentunya tidak ingin Negara ini kembali bertikai seperti tahun 1998, Almarhum Gus Dur sudah memberikan contoh yaitu mengalah secara legowo tanpa menggunakan kekerasan, saya pun berharap semua pihak yang bertikai dapat mencontoh Gus Dur sehingga dapat menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Senada dengan tindakan Gus Dur, Gus Mus juga menyatakan dalam puisinya “API TIDAK BISA DIPADAMKAN OLEH API”.

Posted by: gulagulakakidua | February 23, 2010

Bidadari Cina Selatan (Part 2)

Imlek beberapa hari yang lalu kembali mengingatkan saya akan tulisan saya yang belum selesai, cerita tentang pertemuan dengan gadis cina (part1). Saya langsung saja memulai cerita….

Setelah kejadian itu Ina dan Norah beberapa kali SMS-an, setiap kali sms dengan Norah, Ina selalu mem-forward sms nya ke HP saya. Ina juga beberapa kali memaksa saya untuk mengirim sms ke Norah, tapi saya selalu menolaknya karena saya belum berani. Ina memang berniat mempertemukan saya dengan Norah, tetapi selalu gagal karena Norah selalu menolak dengan halus, alasannya berbagai macam, karena kelelahan, belajar dan lain-lain. Saya juga tidak terlalu berharap meskipun saya sebenarnya menginginkan pertemuan itu, dan saya juga sangat menghargai usaha Ina yang selalu berusaha mempertemukan saya dengan Norah.

Hari berganti hari tak terasa skripsi saya hampir selesai, saya semakin sibuk memperbaiki skripsi karena deadline untuk penyerahan skripsi semakin dekat, tinggal beberapa minggu lagi, begitu juga dengan Ina, malah skripsi Ina masih banyak yang harus diperbaiki terutama pada bab teori, saya membantunya sebisa mungkin. Lalu bagaimana dengan Norah?? Kami lupa sejenak pada gadis Cina itu, sms-sms Ina beberapa kali tidak dibalas, jadi kami berpikir Norah memang sudah tidak ingin di “ganggu” lagi. Pada akhirnya kami juga fokus pada masing-masing skripsi kami.

Hari persidangan pun tiba, saya sidang lebih dahulu sedangkan Ina beberapa hari setelah saya. Dalam persidangan saya dinyatakan lulus tapi seperti biasa ada beberapa bagian yang perlu direvisi, beberapa hari kemudian Ina sidang dia juga dinyatakan lulus dengan revisi tentunya. Saat revisi kami terkadang mengerjakannya bersama-sama, sementara waktu untuk revisi kurang dari 2 minggu untuk itu kami semua fokus pada revisi sehingga hampir melupakan hal-hal yang tidak penting, lalu bagaimana dengan si cantik Norah? Tidak terlintas sedetik pun dipikiran saya maupun Ina. Bersyukur kami semua dapat menyelesaikan revisi skripsi dan menyerahkan ke bagian akademik.

Sambil melengkapi persyaratan-persyaratan kelulusan lainnya kami sudah agak santai, kami sudah bisa hidup normal dalam hal ini tidur tepat waktu, bangun agak siang, dan sedikit memanjakan diri. Di suatu hari, Selesai menunaikan solat jum’at tiba-tiba HP saya berdering, ternyata dari Ina, dia bilang “bro!!! ada kabar baik”, saya balas “wah kabar apa nih?”. Ina bilang “Norah sms gua!, dia ngajakin creambath hari ini, tapi kan gua lagi kerja, mana bisa”, saya sempat terdiam setengah percaya setengah tidak, bagaimana mungkin setelah tidak ada kabar beberapa minggu kemudian menghubungi Ina untuk creambath bareng, ini pertanda masih ada respon. Kemudian Ina melanjutkan “tapi tenang bro, gua udah atur pertemuan untuk hari sabtu besok, persiapkan diri lu, nanti gua kabarin lagi”, “OK!!” saya balas demikian.

Saya tidak sabar menunggu hari sabtu, tidur pun tidak nyenyak mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi besok. Wajah Norah tak mau hilang dari pikiran saya, lambat laun saya pun tertidur. Sabtu pagi saya bangun, mandi, solat dan mempersiapkan segala suatunya, agak grogi karena hari ini saya akan bertemu wanita cantik, oh my God mudah-mudahan lancar-lancar saja, demikian harapan saya. Selesai semua persiapan saya berangkat menuju kampus, standby disana. Sambil menunggu berita dari Ina saya browsing internet karena saya memang membawa laptop. Agak cemas karena sampai sore hari belum ada kabar dari Ina, “duh jangan-jangan batal nih”, saya berkata dalam hati. Tak lama kemudian sekitar jam 5 sore kabar itu datang, Ina mengirim SMS yang bunyinya “Bro, Norah udah OK, dia minta ketemuan di Kos-an nya jam 6 sore, tapi sori gua nggak bisa nemenin lu, gua ada acara sama keluarga besar gua”, saya sangat kaget, hampir mogok jantung ini, menemui gadis cantik seorang diri, oh my God bagaimana ini??.

Saya balas sms Ina, “ah gila lu Na, tega banget lu ninggalin gua. Ini sih sama aja ngejebak gua. Gua takut nih, batalin aja kali ya?”. Tak lama kemudia Ina menelpon dengan nada sedikit marah dia bilang “lu gimana sih? Udah gua atur jadwal juga. Udah sana temuin. Bikin malu aja lu!!”, kemudian saya balas, “iya iya gua temuin dia”. Akhirnya saya berjalan menuju kos-an Norah, jantung saya berdebar-debar, langkah kaki terasa berat, pikiran kacau, tidak karuan lah pokoknya. Mendekati kos-an Norah, tiba-tiba Depok dan sekitarnya mati lampu, “HAAH MATI LAMPUU!!!!” Ya Tuhan!! Ada apa ini? Jantung saya berdebar semakin kencang, ingin rasanya membatalkan pertemuan ini tapi apa jadinya nanti, dimana harga diri saya sebagai laki-laki. Dengan langkah bulat dan dengan tekad baja saya mantab kan langkah saya menuju kos-an Norah, Norah, I’m coming!!!.

Sesampai di kos-an Norah, dia sudah menunggu di lobby kemudian saya memperkenalkan diri bahwa saya temannya Ina dan saya juga bilang kalau Ina tidak bisa datang karena ada acara keluarga, dia pun memaklumi, setelah itu dia mempersilahkan saya duduk. Dalam keadaan remang-remang dengan diterangi sebatang lilin kami mulai berbincangan, tetapi saya harus berbicara dengan pelan dan jelas karena dia belum terbiasa dengan Bahasa Indonesia, terkadang dia juga menggunakan kamus elektronik bila tidak mengerti kata-kata yang saya ucapkan. Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, tentang kebudayaan Cina, kebudayaan Indonesia. Norah berasal dari Guangdong, itulah mengapa dia saya juluki bidadari Cina Selatan, mungkin saja di sana ada yang lebih cantik dari Norah tapi yang pasti dia telah membuat saya terpesona (idiiiiiih). Dua jam telah berlalu tidak terasa rasanya, saya harus mengakhiri pertemuan (atau blind date?) ini karena besok paginya Norah akan terbang ke Bali untuk liburan selama seminggu dan kemudian kembali ke Cina

Berat rasanya harus mengakhiri pertemuan yang syahdu itu tapi apa boleh buat, tetapi sebelum saya meninggalkan bidadari itu saya meminta ijin untuk mengabadikan kecantikannya, meskipun hanya menggunakan kamera HP 2 MP (saya menyesal seharusnya saya membawa SLR D80 milik saya). Dia pun mengijinkan, tiba-tiba disaat saya ingin mengambil kecantikannya (maksudnya fotonya) lampu menyala, baguslah karena kecantikannya terlihat lebih jelas. Dia tersenyum dan…klik, kecantikannya tersimpan di memory HP, Kami juga sempat bertukar nomor HP dan email. Terakhir saya mengucapkan terima kasih atas kesediaanya menemui saya, dia juga mengucapkan terima kasih, saya pun pamit meninggalkan Norah. Norah si beautiful south Chinese semi goddess, slender and tender, never been kissed (lebay…..hehehe).

Sejak pertemuan itu sampe sekarang saya tidak pernah berhubungan lagi, saya pernah mengirimnya email tapi tidak dibales dia memiliki email google, saya juga telah nge-add alamatnya di Gtalk saya tetapi belum di approve sampai saat ini, apakah jangan-jangan google di Cina di ban? Saya juga beberapa kali mencari-cari “sidik jari” Norah di fakultas dia pernah belajar dan internet. Hasil penelusuran internet mengarahkan saya kepada website-website di Cina, untunglah google punya fasilitas alih bahasa. Dari situ kemudian saya mengetahui bahwa Norah bukanlah nama asli, dia berprofesi sebagai dosen bahasa, dia juga pernah kuliah di Australia dan yang terakhir dia belajar bahasa di Indonesia. Saya juga mendapatkan nomor telepon dia di Cina dan emailnya yang lain, tapi saya belum berani menghubunginya.

Part 1

Adanya RUU yang membahas mengenai nikah siri kembali mendapat sorotan dan perdebatan karena dalam RUU tersebut dikatakan bahwa orang yang menikah tidak dilakukan di hadapan pejabat pencatat nikah atau nikah siri dan perkawinan mutah atau kontrak akan terancam hukuman pidana (berita selengkapnya). RUU tersebut sepertinya dibuat untuk melindungi kaum perempuan, tetapi tidak sedikit orang-orang yang menolaknya karena bertentangan dengan hukum agama terutama hukum islam sementara sebagian lainnya menilai RUU ini justru merendahkan martabat kaum wanita karena salah satu pasalnya menyebutkan calon suami yang berkewarganegaraan asing harus membayar uang jaminan kepada calon istri melalui bank syariah sebesar Rp 500 juta, hal ini seolah-olah wanita Indonesia bisa dihargai dengan uang. Namun banyak juga yang mendukung RUU ini.

UU atau RUU mengenai perkawinan memang selalu menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya bahkan sejak Negara Indonesia dijajah oleh Belanda sekalipun, hal ini dapat diketahui dari buku Sejarah Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Cora Vreede-De Stuers, dalam buku tersebut pemerintah kolonial Belanda juga mengalami kesulitan dalam membuat UU dan mengatur tentang perkawinan mengingat mayoritas bangsa Indonesia memeluk agama Islam, pemerintah kolonial harus berkonsultasi dengan berbagai ulama yang berpengaruh sementara di satu sisi gerakan feminis sedang tumbuh berkembang dan menuntut persamaan hak dan emansipasi seperti menolak poligami, pendidikan untuk wanita dan sebagainya.

Gerakan-gerakan feminis yang memiliki program-program radikal seperti menolak poligami, perkawinan dini dan menuntut pendidikan hampir selalu mendapat pertentangan dari golongan agamawan atau bahkan kaum adat, selain itu para pejuang gerakan feminist juga mendapat banyak tekanan baik fisik maupun mental dari pemerintah kolonial. Bagi Belanda situasi ini adalah situasi yang menguntungkan karena dengan adanya situasi seperti ini Belanda berharap bangsa Indonesia tidak akan bersatu. Tetapi rupanya gerakan-gerakan feminis tersebut dapat “menyisihkan” sementara program-programnya yang radikal dan fokus terhadap perjuangan kemerdakaan serta bekerjasama dengan organisasi-organisasi lainnya terutama setelah Sumpah Pemuda 1928.

Kembali ke permasalahan diatas, RUU tersebut sepertinya akan sulit menemukan titik temu baik karena sulit mendapat dukungan fikih terutama agamawan ortodok atau kaum fundamentalis. Sulitnya mendapat dukungan fikih karena nikah siri atau poligami tidak dilarang meskipun juga tidak diwajibkan, persepsi ahli fikih yang satu dengan yang lainnya juga dapat berbeda. RUU tersebut memang terkesan melindungi kamu wanita terutama kaum wanita yang memiliki posisi tawar yang lemah dalam hal ini seperti tingkat pendidikan, kemiskinan dan lain-lain, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan UU tersebut melindungi kaum wanita, kemudian apakah dengan RUU tersebut pelacuran, perdagangan wanita atau KDRT akan hilang. Mungkin jalan tengahnya adalah dengan merevisi kembali RUU tersebut dengan mempertimbangkan pendapat-pendapat publik atau andaikan RUU tersebut dijadikan UU maka pemerintah juga harus melakukan tindakan-tindakan lain seperti penertiban dan kemudahan di KUA untuk menghilangkan isu-isu yang negatif, pemerintah juga harus lebih menekankan pendidikan bagi kaum wanita, pendidikan di sini bukan hanya sekedar pendidikan akademik atau pendidikan resmi di sekolah-sekolah tetapi juga pendidikan moral, agama dan pendidikan-pendidikan kepribadian lainnya. Akses terhadap pendidikan-pendidikan tersebut juga harus dibuka seluas-luasnya, pemerintah adalah yang paling bertanggungjawab dalam hal penyediaan pendidikan tersebut hal ini sesuai dengan UUD 1945. Dengan adanya pendidikan tersebut kaum wanita diharapkan memiliki posisi tawar yang kuat dan dengan kecerdasan yang dimilikinya kaum wanita juga dengan sendirinya akan menolak nikah siri, poligami dan hal-hal lainnya yang merendahkan martabat kaum wanita.

Posted by: gulagulakakidua | January 28, 2010

Heboh Pembobolan ATM (lagi)

Berita-berita di tanah air beberapa hari terakhir dipenuhi oleh berita tentang politik dan century, tetapi ada kejadian yang cukup menghebohkan yaitu tentang pembobolan ATM beberapa bank, modusnya juga beragam dari yang menggunakan peralatan canggih sampai hanya mengelabui pengguna ATM, kerugian juga ditaksir milyaran rupiah dan ada indikasi keterlibatan orang asing karena pembobolan itu dilakukan dari luar negeri.

Berita pembobolan tersebut mengingatkan saya akan kejadian beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 2000-an, saya memang tidak menjadi korban pembobol ATM tapi saya mengetahui orang yang akan membobol ATM. Kejadian ini bermula saat saya hendak pulang dari sekolah menuju rumah, biasanya saat jam sekolah selesai saya nongkrong bersama dengan teman-teman yang lain tapi hari itu saya nongkrong hanya sebentar sekedar untuk menunggu suasana jalan agak sepi, sekolah saya terletak di komplek militer di Cijantung dan omprengan yang menuju keluar komplek tidak begitu banyak jadi terkadang kami berebutan naik ke dalam omprengan.

Setelah melihat suasana agak sepi saya pulang seorang diri, suasana di lampu merah  Cijantung juga tidak terlalu ramai, jalanan sudah mulai lancar. Setelah menunggu sebentar ada angkot yang berhenti, angkot itu kosong saya berpikir sejenak karena perasaan saya sedikit tidak enak. Di Cijantung terutama sepanjang jalan raya Bogor terdapat beberapa sekolah dan tidak jarang juga sekolah-sekolah tersebut terlibat tawuran, karena sekolah saya berada dalam komplek militer dan termasuk sekolah unggulan di Jakarta maka sekolah saya aman dan tidak pernah terlibat tawuran (hanya sekali terlibat tawuran, saya akan menceritakannya di lain kesempatan). Di luar komplek kondisinya tidak aman 100%, banyak di antara siswa-siswa sekolah kami yang menjadi korban pemalakan baik di pinggir jalan atau di dalam angkot saya pun pernah mengalaminya. Tawuran juga hampir setiap hari terjadi di jalan raya Bogor terutama ruas jalan antara Cijantung – Cibubur, tak heran kami menyebutnya Jalur Gaza.

Karena kondisi-kondisi itu saya awalnya ragu untuk naik angkot yang kosong itu tetapi saya tetap berpikir positif sehingga lansung masuk ke dalam angkot tersebut dengan harapan tidak terjadi apa-apa. Setelah saya naik, angkot pun jalan tidak lama kemudian naik 2 orang pemuda, kedua orang ini langsung duduk di dekat saya dan bisa dikatakan menjepit saya dengan posisi satu orang di samping dan satu orang lainnya di depan saya, saya juga salah seharusnya saya tidak duduk di pojok. Posisi saya terjepit 2 orang pemuda itu, saya sudah siap-siap “dilucuti” karena saya memang tidak memiliki barang berharga, di kantong hanya ada 1-2 lembar uang seribuan, sepatu dan tas juga tergolong jelek, HP saya tidak punya karena jaman itu memang belum nge-trend dan masih tergolong barang MEWAH. Kedua pemuda itu berumur sekitar 20-an tahun, tampangnya jauh dari menyeramkan dan berpakaian cukup rapi.

Kedua pemuda itu langsung mengajak saya bicara kami pun terlibat pembicaraan yang tidak terlalu penting seperti, sekolah di mana, tinggal di mana dan sebagainya, mungkin maksudnya ingin membuat suasana sedikit santai dan memang agak santai karena beberapa penumpang lain memenuhi angkot meskipun demikian tetap dalam hati saya terdapat kekhawatiran. Tidak lama setelah perbincangan selesai dan angkot kembali sepi  salah seorang pemuda mengeluarkan sesuatu, saya semakin khawatir, takut-takut kalau yang dikeluarkan adalah benda tajam atau semacamnya, tetapi benda tersebut bukan benda tajam melainkan tumpukan kartu ATM, ya itu jelas kartu ATM saya juga sempat mencuri pandang ke dalam tas pemuda itu di dalam tas itu berisi ratusan kartu ATM. Tidak hanya setumpuk kartu ATM yang dikeluarkan tetapi juga beberapa lembar kertas yang berisi angka-angka, saya menduga itu adalah PIN dari dari kartu-kartu ATM yang mereka miliki. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, milik siapa kartu-kartu ATM ini? Dari mana mereka dapat kartu-kartu ATM tersebut? Dan bagaimana caranya?

Tidak lama kemudian setelah sampai di persimpangan Ke’ong Ciracas ada pertokoan yang cukup ramai dan terdapat beberapa ATM, mereka berdua turun. Sebelum turun salah seorang dari mereka meminta saya untuk tidak perlu membayar angkot karena mereka akan membayar ongkos saya, saya tidak menjawab dan tidak mengiyakan dan benar mereka membayar ongkos untuk 3 orang. Saya berpikir bahwa mereka sedari awal memang tidak berniat untuk “melucuti “ saya tetapi mereka mendekati dan berbincang-bincang dengan saya agar orang-orang tidak curiga mungkin semacam mengalihkan perhatian dan mungkin ongkos yang mereka bayar adalah sebagai uang “tutup mulut”. Turun dari angkot pun saya masih memikirkan kejadian ini bagaimana saya harus menyikapinya, sesampai di rumah saya menceritakan kejadian ini kepada orang tua, mereka hanya bilang “syukur yang penting kamu masih selamat”.

Fenomena pencurian uang secara elektronik sudah melanda Indonesia sejak akhir tahun 90an apalagi waktu itu sedang booming internet, mungkin saat itu lebih dikenal dengan carding yaitu pencurian data pengguna kartu kredit yang berbelanja di internet. Meskipun hanya siswa SMA saya cukup antusias dengan dunia internet yang sedang “hot” dan saya cukup perhatian dengan isu-isu carding saat itu, konon menurut info-info yang saya terima Indonesia menjadi salah satu surga bagi para carder maka tidak heran bila IP-IP yang berasal dari Indonesia di blacklist sehingga tidak bisa melakukan pembelian dari internet. Kartu kredit di akhir tahun 90an masih merupakan barang mewah sehingga orang-orang tertentu saja yang memilikinya, diiringan dengan perkembangan internet dan kemudahan belanja online menjadi salah satu penggerak roda perekonomian di beberapa Negara. Kejahatan internet juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan akibat bebasnya arus informasi di internet.

ATM tidak berbeda jauh dengan kartu kredit saat itu, hanya kasta nya satu tingkat lebih rendah dengan kartu kredit dan bisa dikatakan ATM adalah barang ½ mewah. Orang yang memiliki ATM adalah orang yang tergolong mampu. Kalau pencurian data kartu kredit dapat dilakukan via internet maka lain hal nya dengan ATM, dulu ATM belum secanggih kartu kredit karena pada umumnya kartu ATM hanya bisa untuk menarik uang tunai berbeda dengan sekarang dimana kartu ATM bisa berfungsi bermacam-macam. Maka pada era 90an setahu saya pencurian uang melalui ATM biasanya melalui cara-cara konvensional misalnya hipnotis, penodongan atau perampokan. Dengan kejadian di atas sebagai anak SMA saya berpikir bahwa mereka pembobol ATM agak sedikit canggih karena menggunakan cara-cara yang tidak biasa dalam hal ini menggunakan cara yang sedikit halus.

Pembobolan ATM baru-baru ini menggunakan cara-cara yang lebih “pintar” dan menggunakan bantuan berbagai macam peralatan dan juga mungkin bantuan orang dalam dari bank yang akan dibobol, apalagi bila pembobol tersebut menguasai ilmu jaringan atau security internet maka akan semakin mudah mereka meretas jaringan computer perbankan. Orang yang mengerti tentang keamanan computer mungkin akan sangat berhati-hati bila menggunakan kartu ATM, tetapi bagaimana dengan orang awam, trik-trik ini mungkin dapat membantu:

  1. Gunakan kartu ATM hanya pada tempat-tempat yang dipercaya
  2. Bila memungkinkan sediakan 1 rekening sebagai rekening operasional yang hanya berisi sedikit uang
  3. Periksa mesin ATM atau mesin gesek lainnya sebelum memasukkan kartu ATM
  4. Bila melakukan belanja online, lakukan hanya pada situs-situs yang TERPERCAYA
Posted by: gulagulakakidua | January 8, 2010

FTA China ASEAN

Tahun baru 2010 salah satunya diawali dengan berlakunya FTA (Free Trade Area) China ASEAN, yaitu kawasan perdagangan bebas antara China dan Negara-negara ASEAN seperti Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. FTA ini menghilangkan tariff bea masuk produk-produk yang diperdagangkan antara Negara-negara ASEAN dan China dengan demikian produk-produk tersebut akan lebih murah dan kompetisi akan semakin keras.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia sudah siap dengan FTA tersebut? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab, di Indonesia sendiri banyak pro dan kontra, optimis dan pesimis, beberapa demo juga terjadi di beberapa tempat. Sebagian ahli berpendapat bahwa FTA akan menguntungkan Indonesia karena dapat merangsang pertumbuhan industry dan ekonomi sementara tidak sedikit ahli yang pesimis dengan FTA. Pendapat-pendapat tersebut memang tidak sepenuhnya pesimis tetapi karena beberapa sektor industry di Indonesia tidak atau belum siap dengan FTA apalagi yang harus dihadapi adalah China, untuk itu perlu penundaan FTA pada beberapa sektor industri seperti industri tekstil dan manufaktur.

Tidak ada yang meragukan kemampuan ekonomi China, bahkan AS dan Eropa dibuat kewalahan tak heran dua kekuatan tersebut sering mengeluh oleh “serangan-serangan” China. Banyak indeks yang menggambarkan bahwa perekonomian China terus membaik, ekonomi China banyak didorong oleh ekspor padahal China baru bergabung dengan WTO pada tahun 2001. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan China yang melakukan ekspansi seperti industri otomotif nya yang beberapa waktu lalu membeli perusahaan otomotif di AS dan Eropa, hal yang sama juga dilakukan oleh industri yang lain seperti ICT dan Energi.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia dan China adalah sama-sama Negara outsourcing hal ini sebenarnya dapat memberikan kesempatan yang sama untuk maju tapi sepertinya China lebih cepat maju, hal ini ditandai dengan terus bertumbuhnya industri manufaktur China, industri-industri lain di China juga tidak kalah sebagai contoh China sudah mampu membuat motor dan mobil dan bahkan mampu menembus pasar di Indonesia meskipun dalam beberapa hal produk nya masih memiliki kelemahan dibanding dengan produk-produk yang sama dari Jepang. Indonesia sepertinya belum mampu untuk membuat sendiri produk-produk otomotif dalam negeri padahal Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun menjadi perusahaan outsource industri otomotif Jepang.

Kembali pada pertanyaan pertama, Apakah Indonesia Siap? Siap tidak siap Indonesia harus siap karena FTA sudah berlaku, FTA harus dijadikan sebagai stimulan untuk meningkatkan perindustrian dan perdagangan Indonesia, sementara pemerintah juga harus memperhatikan dan melakukan tindakan terhadap industri-industri yang dianggap masih lemah. Kreativitas dan inovasi juga harus ditingkatkan dan didukung dengan demikian Indonesia akan mampu menghadapi FTA.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.